Pandemi Covid-19 dan Relevansinya dengan Era Revolusi Industri 4.0

Virus Corona pertama kali terdeteksi pada awal Desember 2019 di Wuhan Cina, kemudian dengan cepat menyebar ke negara-negara lain. Pada Rabu, 11 Maret 2020 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan virus Corona sebagai pandemi global  dengan nama resmi Covid-19.

Indonesia mengantisipasi pandemi Covid-19 dengan memasang alat pengukur suhu badan di berbagai bandara. Pada Senin, 2 Maret 2020, Indonesia pertama kali mengkonfirmasi kasus Covid-19. Presiden Joko Widodo mengumumkan ada dua orang warga negara Indonesia yang positif Corona yakni perempuan 31 tahun dan seorang Ibu berusia 64 tahun.

Penyebarannya begitu cepat. Konfirmasi kasus Covid-19 bermunculan di berbagai daerah. Hingga data pada Sabtu, 16 Mei 2020 mencapai 17.025 terkonfirmasi positif, 3.911 sembuh, dan 1.089 meninggal, tentunya data ini akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang tercatat dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 tahun 2020, mulai diberlakukan. Pembatasan tersebut meliputi: Peliburan lembaga pendidikan dan perguruan tinggi, pembatasan kegiatan keagamaan, pembatasan kegiatan sosial budaya, pembatasan kegiatan di tempat umum, dan pembatasan moda transportasi.

Siswa dan mahasiswa melakukan pembelajaran dari rumah secara daring, para pegawai bekerja dari rumah, kegiatan umum banyak yang dibatalkan, masyarakat dihimbau untuk “Di rumah saja”.

Mulai terjadi PHK di banyak daerah, para buruh tidak bisa lagi bekerja, pedagang kecil kehilangan pelanggan, sopir angkot sepi penumpang, penggangguran meningkat dengan cepat. Sudah seharusnya masyarakat beradaptasi dengan sesuatu yang baru.

Masyarakat dipaksa untuk bekerja dari rumah, dipaksa menjalankan indutri 4.0 lebih cepat. Covid-19 menuntut masyarakat untuk memasuki era Rovolusi Industri 4.0, padahal tidak semua pekerjaan bisa dilakukan di rumah, sebagian besar membutuhkan datang ke tempat untuk bisa bekerja.

Tidak mungkin seorang sopir angkot dapat bekerja dari rumah, penghasilan mereka berada di jalan mengantar para penumpang, pelayan restoran tidak mungkin bisa berkerja dari rumah, pendapatan mereka ada di restoran tempat bekerja. Tukang parkir tidak mungkin bia bekerja dari rumah, rezeki mereka ada di lahan parkir.

Masyarakat harus berubah. Manusia dibekali akal dan kemampuan untuk bisa beradaptasi, harus mencari peluang pekerjaan lain untuk mampu bersaing, pekerjaan konvensional akan banyak tergantikan oleh kecanggihan teknologi, yang menuntut efisiensi dana dan waktu.

Di perlukan industri kreatif dengan memanfaatkan jaringan internet dan berbagai kemudahan yang tersedia. Revolusi Industri 4.0 merubah gaya hidup masyarakat, hanya dengan menggunakan gadget seseorang dapat melakukan banyak hal, membeli makanan tinggal pesan di Go-Food, ingin berbelanja tinggal membuka Bukalapak dan Shopee dan lainnya. Memesan tiket dan hotel sudah tersedia Tiket.com dan Traveloka.

Jika dulu pegiat Usaha Kecil dan Menengah (UKM) berjualan dengan membuka toko atau warung, kini harus berinovasi dengan mempromosikannya melalui platform Bukalapak, Shopee dan Go-Food untuk memperluas jaringan sehingga pelanggan akan semakin banyak.

Menjadi konten kreator di Youtube dan Instagram sudah menjadi hal biasa dan sudah banyak masyarakat yang berlomba-lomba menciptakan karya dan membuat channel. Seorang yang hobby videografi dan fotografi tak perlu menunggu job lagi, karena sudah ada platform seperti Envato, Shutterstok, Gettyimages dan Videovo, yang menjual fotografi dan videografi.

Mempunya skill menulis tidak harus lagi mengirim ke berbagai media cetak atau penerbit, kirim saja ke paltform seperti Steller, Storial.co, dan Wattpad. Seseorang bebas berekspresi dan akan menghasilkan pendapatan, tidak jarang hak cipta tulisan akan dibeli oleh penerbit dan dijadikan film. Mempunyai keahlian di bidang graphic artis atau illustrator sudah tersedia platform Behance, Etsy, 99desigins, dan Web Toon.

Masyarakat harus mengikuti perkembangan era Revolusi Industri 4.0, tidak bisa lagi mengandalkan pekerjaan konvensional, yang semakin lama akan tertelan oleh arus globalisasi. Covid-19 mempercepat semua itu terjadi dengan “Di rumah saja”.

Agung Wiguno*

(Juara I Lomba Write & Work From Home – Karya Essay) Anggota PKPT IPNU IAIN Jember angkatan 4 2019, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam 2017 IAIN Jember, Kader aktif Sekolah Kader Intelektual – IMC (Intellectual Movement Community) IAIN Jember, Wakil Ketua IKAMALA (Ikatan Mahasiswa Lamongan) IAIN Jember.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *