New Mindset: Pilihan di Saat Pandemi

Masyarakat kini dihadapkan pada pilihan hidup yang harus ditempuh ditengah-tengah wabah yang melanda Indonesia khususnya dan hampir seluruh dunia pada umumnya. Kita dihadapkan pada aturan-aturan yang telah ditetapkan atau menyiasati aturan tersebut agar tetap berjalan untuk keberlangsungan hidup.

Ada banyak fenomena, situasi-kondisi dan momen yang bermunculan, yang kemudian menjadi perbincangan di masyarakat luas. Uniknya fakta antara dilapangan dan pada berita simpang-siur dan tidak sesuai kejadian aslinya.

Pertama, Munculnya teori konspirasi, yang mencuat adalah suatu gebrakan pemikiran terkait asal mula virus yang sampai saat ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Mulai dari beredarnya kabar bahwa virus ini berasal dari laboratorium Wuhan China yang kemudian bocor dan menular ke manusia. Ada juga yang muncul bahwa ini adalah salah satu senjata biologis yang dikirimkan oleh angkatan darat AS yang kemudian dikirim ke China, hingga tudingan pencetus Microsof Bill Gates yang sudah meramalkan akan adanya pandemi sejak sekitar 2015 lalu yang kemudian ramai dibincangkan. Benar atau tidaknya teori ini, adalah pilihan yang disuguhkan masyarakat, bagi yang suka dan percaya berita, minimal jangan menyalahkan konspirasi, bagi yang percaya konspirasi jangan menyalahkan yang percaya berita karena bagi masyarakat, umumnya memang mereka disuguhkan dengan berita setiap harinya.

Kedua, Fenomena mudik atau pulang kampung juga menjadi polemik disaat wabah ini melanda. Bagi yang taat aturan, bagus bisa berdiam diri dirumah, jaga jarak dan sebagainya. Bagi yang belum atau tidak bisa mentaati peraturan, juga jangan sepenuhnya disalahkan. Faktanya orang yang berani mudik atau pulang kampung beberapa diantaranya merupakan pekerja yang terkena PHK, kemudian berharap bantuan demi menyambung hidup atau pekerja yang honornya dipangkas untuk donasi kemanusiaan sedangkan kebutuhannya tetap, akhirnya ngutang. Termasuk para pekerja harian yang menggantungkan pada pemasukan harian, baik itu tukang ojek, sopir bus, kondektur, tukang becak, pedagang asongan, para pedagang di pasar, dan sebagainya. Karena sebagian dari mereka merasa bantuan tidak kunjung datang, akhirnya mereka memberanikan diri mudik atau pulang kampung karena diperantauan dihimpit ekonomi dengan harapan mendapat bantuan, sedangkan aturan mengikat mereka untuk tetap tinggal.

Ketiga, pada pelaksanaan kegiatan Ramadan yang merupakan bulan suci umat Islam, pada tahun ini mengalami perbedaan dikarenakan pandemi yang melanda. Di berbagai pelosok desa, kegiatan ramadan masih berjalan seperti biasa namun tetap melaksanakan protokol pencegahan penyebaran covid-19, mulai dari jarak dalam sholat hingga penggunaan masker dan Hand Sanitizer. Begitu juga pelaksanaan Idul Fitri yang dilaksanakan di berbagai daerah dengan protokol kesehatan yang telah di sepakati. Adatnya di berbagai tempat, biasanya setelah sholat Ied dilaksanakan diteruskan dengan silaturrahmi ke tetangga dekat dan ke sanak keluarga. Namun pada tahun ini masyarakat terpecah menjadi dua pilihan, pertama, tetap menjalankan silaturrahmi ke sanak keluarga dan tetangga dekat seperti biasanya. Kedua, pada tahun ini menjalani Idul Fitri dengan sangat tertib dan taat terhadap aturan. Jika sebelumnya mereka bersilaturrahmi ke tetangga dekat dan sanak keluarga namun pada tahun ini mereka menutup rumah dan tidak menerima tamu.

Sikap dewasa yang semestinya adalah tidak saling menyalahkan jika yang satu menjalankan apa yang tidak kita sepakati. Bagi yang menjalankan bulan Ramadan di rumah saja, tarawih dan tadarus di rumah itu bagus karena anjurannya begitu. Bagi yang menjalankan Idul Fitri dengan tidak sholat Ied dan tidak bersilaturrahmi demi antisipasi, itu sangat bagus untuk diterapkan. Tapi setidaknya jangan terlalu menyalahkan yang menjalani ramadan di masjid atau yang ingin bersilaturrahmi ke sanak saudara dan kerabat dekat. Kita juga belum tau pasti bahwa pada kenyataannya mereka selalu mengontrol diri dengan selalu menjaga jarak atau membawa masker dan hand sanitizer. Jangan menyalahkan juga kelompok yang tetap menjalankan silaturrahmi seperti adat kebiasaannya, mungkin saja mereka juga sudah antisipasi diri sebelum dan sesudah berangkat dari rumah. Begitu pun kelompok yang tetap menerapkan silaturrahmi tahun ini jangan terlalu menyalahkan yang menutup rumah dan tidak menjalankan silaturrahmi karena semua itu pilihan, mau pilih aturan bagus atau mau melanggar juga tidak masalah, selagi tetap menjaga diri dan antisipasi dini.

Inilah fenomena yang terjadi di masyarakat, lucunya ketika ada yang mengambil sikap taat aturan, mulai dari menjalankan ibadah di rumah, kerja dari rumah, dan menjalankan/merayakan Idul Fitri di rumah, tapi disisi lain mereka pergi ke mall yang mana pasti berkerumun dengan alasan membeli pakaian, ada juga yang pergi ke pasar yang berdesak-desakan dengan jawaban membeli kebutuhan sehari hari. Terkadang mereka secara tidak langsung memberi komentar negatif terhadap yang melanggar aturan.

Pada masa masa sulit seperti ini, masyarakat yang terlihat melanggar sebenarnya ingin taat aturan yang telah ditetapkan tapi karena ada alasan lain yang urgent mereka hampir tidak punya pilihan. Jika aturan yang telah dibuat bisa menyejahterakan, tentu akan memilih itu tapi kenyataannya belum. Jangan sampai karena perbedaan pilihan yang diambil ini membuat persaudaraan atau pertemanan menjadi goyah karena perbedaan pilihan.

*Rekan Dana Nuril Ibad, Alumnus IAIN Jember tahun 2018, Alumni PKPT IPNU IAIN Jember 2016-2017, Pengurus PC IPNU Jember, Alamat Desa tembokrejo Kec. Gumukmas Kab. Jember, Alamat Email: nurildana@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *