NU Tidak Sedang Baik-Baik Saja?

Dilema Loyalitas dan Kejernihan Warga Nahdliyin
Writer: Imyam Muhtadai
Riuh Polemik di Tingkat Elite
Dalam beberapa waktu terakhir, warga Nahdliyin menghadapi situasi yang tidak mudah. Polemik di tingkat elite organisasi sempat ramai diperbincangkan di ruang publik. Perbedaan sikap antar tokoh bahkan memicu berbagai perdebatan di kalangan warga NU.
Belum lama polemik tersebut mereda, kini muncul kembali persoalan baru yang turut menyita perhatian publik. Kasus yang menimpa Gus Yaqut Cholil Qoumas kembali membawa nama NU menjadi perbincangan luas. Mantan Menteri Agama itu kini menghadapi proses hukum di Komisi Pemberantasan Korupsi. Situasi ini bahkan memicu aksi demonstrasi dari sejumlah anggota Barisan Ansor Serbaguna(BANSER) di depan gedung KPK. Peristiwa tersebut kembali menempatkan NU dalam sorotan publik.
Peristiwa tersebut menambah kebingungan sebagian kader di akar rumput. Organisasi yang selama ini mereka banggakan tampak sedang menghadapi ujian. Sebagai rumah besar Ahlussunnah wal Jama’ah, Nahdlatul Ulama kini berada dalam sorotan banyak pihak.
NU dan Tradisi Menghadapi Konflik
Meski demikian, sejarah menunjukkan bahwa Nahdlatul Ulama tidak lahir dari ruang hampa konflik. Sejak awal berdiri, organisasi ini telah melewati berbagai dinamika sosial, politik, dan keagamaan.
Karena itu, kegelisahan hari ini tidak seharusnya membuat kader muda kehilangan arah. Situasi ini justru bisa menjadi momentum untuk kembali mengingat nilai-nilai dasar yang diwariskan para ulama.
Pelajaran Adab dari Ulama NU
Salah satu pelajaran penting datang dari KH. Hasyim Asy’ari. Dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, beliau menekankan pentingnya menjaga adab ketika menghadapi perbedaan.
Seorang penuntut ilmu tidak boleh tergesa-gesa dalam menilai sebuah persoalan. Ia harus memahami duduk perkara dengan jernih sebelum mengambil sikap.
Prinsip ini sejalan dengan ajaran tabayyun yang sangat kuat dalam tradisi pesantren.
Bahaya Informasi yang Tidak Utuh
Di era media sosial, sikap tabayyun menjadi semakin penting. Informasi menyebar sangat cepat. Namun tidak semua informasi datang secara utuh.
Kadang orang menyampaikan informasi dengan framing tertentu. Situasi seperti ini menuntut kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama untuk lebih berhati-hati.
Para ulama sejak dulu telah mengingatkan hal ini. Tidak semua yang kita dengar harus segera kita yakini. Tidak semua yang kita yakini juga harus segera kita sebarkan.
Menjaga Lisan dan Kejernihan Sikap
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan bahwa kerusakan masyarakat sering bermula dari lisan yang tergesa-gesa.
Prasangka yang tidak terkendali juga bisa memperbesar konflik. Karena itu, seorang muslim berilmu harus menjaga ketenangan sikap dan kejernihan berpikir.
Dalam melihat polemik, warga NU juga perlu membedakan antara organisasi dan individu. NU adalah jam’iyyah besar dengan jutaan warga dan ribuan pesantren.
Jika seorang tokoh menghadapi persoalan, hal itu tidak otomatis mencerminkan keseluruhan organisasi. Sejarah NU menunjukkan bahwa jam’iyyah ini selalu lebih besar daripada figur siapa pun.
Pesan Kebijaksanaan Gus Dur
KH. Abdurrahman Wahid pernah menyampaikan pandangan yang penting untuk direnungkan. Menurutnya, kekuatan NU tidak terletak pada kekuasaan politik.
Kekuatan NU justru hidup dalam tradisi sosial masyarakat. Pengajian, tahlilan, madrasah, pesantren, dan kegiatan sosial menjadi napas kehidupan Nahdliyin.
Selama tradisi itu tetap hidup, NU sebenarnya tetap berjalan.
Dilema Loyalitas dan Kejernihan
Kader muda sering menghadapi dilema antara loyalitas dan sikap kritis. Namun para ulama NU telah memberikan panduan.
KH. Ahmad Siddiq pernah menegaskan bahwa warga NU harus menjaga keseimbangan antara loyalitas organisasi dan kejernihan berpikir.
Loyalitas tidak berarti menutup mata terhadap masalah. Namun sikap kritis juga tidak boleh berubah menjadi kegaduhan.
Peran Kader Muda NU
Bagi kader IPNU dan IPPNU, situasi seperti ini bisa menjadi pelajaran tentang kedewasaan organisasi. Sejak awal, organisasi pelajar NU tidak hanya mencetak aktivis.
Mereka juga membentuk penjaga nilai Ahlussunnah wal Jama’ah. Nilai itu meliputi tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil).
Nilai-nilai inilah yang harus menjadi kompas dalam menyikapi polemik.
Menjaga Marwah Jam’iyyah
Alih-alih larut dalam konflik elite, kader muda dapat memperkuat kerja kaderisasi. Mereka juga bisa mengembangkan literasi keagamaan dan kegiatan sosial di masyarakat.
Sejarah telah membuktikan bahwa NU mampu melewati berbagai badai. Dari masa kolonial hingga pergolakan politik nasional, jam’iyyah ini tetap bertahan.
NU berdiri kokoh karena kekuatan ulama dan umat di akar rumput.
Karena itu, kegelisahan hari ini tidak perlu berubah menjadi pesimisme. Situasi ini justru mengingatkan kita bahwa organisasi besar membutuhkan kedewasaan kolektif.
Di sinilah ujian sebenarnya bagi warga Nahdliyin. Bukan pada seberapa keras suara kita dalam polemik, tetapi pada seberapa bijak kita menjaga marwah jam’iyyah yang diwariskan para ulama.